TRAGEDI MARACANAZO 1950 : FENOMENA TRAGIS TIMNAS BRAZIL DI PIALA DUNIA

TRAGEDI MARACANAZO 1950 : FENOMENA TRAGIS TIMNAS BRAZIL DI PIALA DUNIA
"Final Piala Dunia 1950 yang berlangsung di Stadion Maracana, Rio de Janeiro, Brazil. (Sumber : Sripoku.com)"

"Hiburan Sepakbola di masa lampau tentu tidak lepas dari kata Fanatisme. Fanatisme sendiri merupakan kegiatan mendukung sesuatu yang dicintainya sampai dalam batas yang tidak wajar. Ketika sesuatu tersebut tidak sesuai dengan hal yang diinginkan, mereka merasa kecewa berat dan tidak bisa menerima kenyataan dari kejadian tersebut. Hal tersebut mirip dilakukan oleh Kesebelasan Timnas Brazil di Piala Dunia 1950. Dimana Timnas Brazil harus ditumbangkan Uruguay di Partai Final dengan skor 1-2 di kandang mereka sendiri di Stadion Maracana, Rio de Janeiro. Hal tersebut membuat para masyarakat di Brazil merasa terpukul, bahkan ada yang sampai meninggal bunuh diri dan shock berat seperti serangan jantung karena merasa tidak percaya dengan kekalahan tersebut. Di blog kali ini, penulis akan menceritakan kisah sejarah tentang Tragedi Maracanazo 1950 yang legendaris. Penasaran ceritanya, yuk simak kisah lengkapnya!"

Piala Dunia 1950
"Poster Piala Dunia 1950 yang diselenggarakan di Brazil. (Sumber : Wikipedia)"

"Pasca Perang Dunia II, FIFA berencana ingin menyelenggarakan turnamen Piala Jules Rimet (nama sebelum Piala Dunia) di Negeri Samba, Brazil melalui Kongres FIFA yang diselenggarakan di Luxembourg pada 1946. Edisi Piala Dunia ini merupakan edisi ke-empat dalam penyelenggaraan Piala Dunia. Sebelumnya, Piala Dunia sempat diselenggarakan di Uruguay (1930), Italia (1934), dan Perancis (1938). Namun penyelenggaraan ini sempat tertunda 12 tahun akibat Perang Dunia II dan kembali diselenggarakan pada tahun 1950. Piala Dunia 1950 total diikuti oleh 13 Negara, (3 Negara : Turki, Skotlandia, dan India) mengundurkan diri akibat negaranya masih belum kondusif akibat perang. Piala Dunia ini dibagi menjadi 4 Grup dan 6 Stadion serta diselenggarakan mulai dari tanggal 24 Juni - 19 Juli 1950. Oke di blog ini, penulis akan lebih fokus terhadap Peristiwa Tragis di Partai Final Piala Dunia 1950 yang menimpa kekalahan Brazil atas Uruguay yang membuat masyarakat Brazil merasa terpukul bahkan sampai ada yang meninggal dunia."

Final Piala Dunia 1950
"Stadion Maracana, tempat terjadinya Tragedi Maracanazo. (Sumber : Panditfootball.com)"

"Pada Piala Dunia 1950, FIFA menerapkan sistem yang berbeda dalam perebutan gelar Juara. Yakni Peraturan Round-Robin. Dimana masing-masing Juara Grup A - Grup D digabung dalam satu grup dan mereka berebut mengumpulkan Poin sebanyak-banyaknya sampai menyentuh posisi puncak. Siapa yang dapat mengumpulkan Poin paling banyak, akan dianggap sebagai Juara. Berbeda dengan pergelaran Piala Dunia sebelumnya yang menggunakan sistem gugur. Hal ini dilakukan supaya tim yang gugur tidak pulang cepat dari Turnamen. Mengingat Jarak Brazil dengan negara konsestan rata-rata cukup jauh. 4 Tim Juara Grup tersebut adalah Brazil, Spanyol, Swedia, dan Uruguay digabung dalam 1 Grup untuk menentukan Juara Piala Dunia 1950. Singkat cerita, Final Piala Dunia akhirnya berlangsung pada 16 Juli 1950 di Stadion Maracana, Rio de Janeiro. Saat itu, Masyarakat Brazil merasa sangat yakin 100% bahwa Brazil akan merengkuh Gelar Juara di kandang mereka sendiri. Tidak hanya Masyarakat, bahkan Pejabat, Politisi, sampai Walikota Rio de Janeiro, Angelo Mendes de Moraes pada saat itu sempat berpidato di hadapan publik Brazil yang menyatakan bahwa "Timnas Brazil adalah Tim paling terbaik di seluruh dunia, tidak ada satupun yang bisa mengalahkannya. Kalian adalah pemenang!" ujarnya dengan sangat percaya diri dan angkuh. Tentu banyak Masyarakat Brazil merasa optimis akan Timnas Brazil yang akan merengkuh gelar juara Piala Dunia 1950. Mereka berbondong-bondong ke Stadion Maracana sampai Stadion tersebut penuh sesak oleh penonton yang berdatangan. Total, Penonton yang tercatat memadati Stadion Maracana pada saat itu sebanyak 174.000 penonton yang menjadikannya sebagai Jumlah Penonton terbanyak sepanjang sejarah sepakbola dan belum ada yang bisa mengungguli sampai sekarang. Timnas Brazil pada saat itu diisi oleh skuad emasnya seperti Zizinho, Ademir, dan Friaça. Pemain tersebut merasa optimis karena mereka perlu membutuhkan hasil imbang melawan Uruguay di Partai terakhir. Brazil pada saat itu sangat menggila, mereka berhasil menggilas Swedia dengan skor 7-1 dan menggilas Spanyol dengan skor 6-1. Sedangkan lawannya, Uruguay hanya bisa bermain imbang dengan Spanyol dengan skor 2-2 dan berhasil mengalahkan Swedia dengan skor 3-2. Hal ini tentu sangat memberatkan beban Uruguay mengingat mereka wajib menang dalam laga melawan Brazil."

"Ketika peluit pertandingan dibunyikan, Brazil langsung agresif menyerang, tetapi pertahanan Uruguay yang lumayan kokoh membuat Brazil agak kewalahan. Serangan Brazil tersebut berlangsung sampai babak turun minum, dan suporter masih optimis bahwa Brazil yang akan mengangkat Piala. Hal tersebut berbuah manis pada menit ke-47 babak kedua, dimana pemain Brazil, "Friaça" berhasil melepaskan tendangan on-point ke gawang Uruguay yang membuat skor menjadi 1-0. Seluruh penonton yang ada di stadion sontak bersorak bergembira. Tetapi malapetaka yang sesungguhnya akan terjadi setelah gol tersebut. 19 menit setelah gol pertama terjadi, pemain Uruguay "Juan Schiaffino" berhasil menjebol gawang Brazil yang dijaga Moacir Barbosa sehingga kedudukan menjadi imbang 1-1. Permainan kembali menjadi memanas. Kejutan tidak berhenti disitu, pada menit ke-79 lagi-lagi Pemain Uruguay yang bernama "Alcides Ghiggia" berhasil menjebol gawang Moacir Barbosa sehingga skor sekarang menjadi 1-2 untuk keunggulan Uruguay. Sontak seluruh penonton yang ada di stadion yang sebelumnya bersemangat dan riuh, kini menjadi hening, diam membisu, dan tidak percaya apa yang baru saja terjadi. Hanya sorakan dari Pendukung Uruguay yang bersorak gembira merayakan gol tersebut. Pada akhirnya, wasit dari Inggris "George Reader" meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan. Pertandingan berakhir dengan skor 1-2 untuk kemenangan Uruguay yang berhasil menjadi Juara Dunia yang kedua kalinya secara dramatis di Brazil."

Tragedi Maracanazo
"Proses terjadinya gol Uruguay di Partai melawan Brazil yang memicu Tragedi Maracanazo. (Sumber : TyC Sports)"

"Pasca pertandingan tersebut, banyak penonton dan masyarakat Brazil yang menyaksikan pertandingan tersebut merasa malu dan terpukul sehingga banyak dari mereka yang memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri dan banyak yang mengurung diri di ruangan karena malu atas kekalahannya di Piala Dunia 1950. Total korban dari Tragedi Maracanazo ini bisa mencapai ratusan bahkan ribuan orang. Tidak hanya suporter, pemain Brazil pun banyak dicela oleh masyarakat Brazil karena dianggap tidak pecus dalam meraih kemenangan. Pemain Brazil, Zizinho, bahkan pernah mau pensiun dini dari Sepakbola akibat kejadian ini. Ungkapan lainnya dari kejadian ini dibicarakan langsung oleh Presiden FIFA saat itu, "Jules Rimet" yang pernah berdalih bahwa pada saat itu tidak ada perayaan gelar juara untuk Uruguay dan tidak ada medalinya. Karena medalinya sudah tertulis untuk Brazil bukan Uruguay. Jadinya perayaan Juara untuk Uruguay dilakukan secara tertutup. Akibat Tragedi ini juga, Pihak Federasi Sepakbola Brazil pada akhirnya mengganti Kostum/Jersey Timnas Brazil yang sebelumnya berwarna putih telur asin, kini dirubah menjadi warna Kuning terang yang digunakan sampai sekarang."

Sisi lain Tragedi Maracanazo
"Moacir Barbosa, Kiper Brazil yang bermain pada Piala Dunia 1950 yang dianggap pembawa sial akibat blundernya pada saat melawan Uruguay yang memicu Tragedi Maracanazo. (Sumber : Hops.Id)"

"Ada sebuah kisah sedih dibalik Tragedi Maracanazo, yakni adalah Kisah sedih yang menimpa Kiper Brazil, Moacir Barbosa yang mendapat hinaan dan cemoohan dari Masyarakat Brazil yang dianggap pembawa sial dan menjadi biang kerok dalam kekalahan Brazil melawan Uruguay. Moacir Barbosa lahir di Sao Paulo pada 1921. Beliau mulai menapaki karier seniornya sebagai Kiper di Timnas Brazil pada tahun 1949. Tetapi akibat blunder yang dilakukan, membuat Beliau harus mendapatkan Hinaan dan cemoohan dari Rakyat Brazil akibat blundernya yang fatal tersebut. Beliau bahkan sampai tidak mau keluar rumah saking malunya akibat kejadian tersebut. Pada tahun 1994, Moacir Barbosa sempat ingin bertemu dengan Kiper Brazil waktu itu, Claudio Taffarel yang menjuarai Piala Dunia di Amerika tahun 1994. Tetapi undangan tersebut ditolak oleh Federasi karena beliau masih dianggap pembawa sial, jikalau beliau bertemu dengan Taffarel, maka Brazil bisa kehilangan Juara dan eksistensinya di Piala Dunia. Hinaan dan cemoohan terhadap dirinya sudah melekat pada dirinya sampai akhir hayatnya. Moacir Barbosa pada akhirnya meninggal pada tahun 2000 diusianya yang ke-79 tahun. Akibat kejadian Maracanazo, Federasi Sepakbola Brazil juga berbenah dengan tidak merekrut Kiper Brazil yang berkulit hitam karena dianggap pembawa sial. Moacir Barbosa termasuk Kiper yang berkulit hitam. Sekarang kita bisa melihat bahwa jarang sekali Kiper Brazil yang berkulit hitam, semuanya nyaris berkulit putih."


Created by : Nalindra Wangsa J

Komentar